Market Structures_Ekonomi Mikro

Nama : Nadyah Fakhriyah Izzah FS
Nim    : 240907501005
Kelas  : A


Market Structures



Market Structures merujuk pada cara suatu pasar diorganisasi berdasarkan jumlah dan jenis pelaku ekonomi yang terlibat, serta tingkat persaingan yang ada di pasar tersebut. Struktur pasar memengaruhi perilaku perusahaan dalam menetapkan harga, kualitas produk, dan jumlah barang yang diproduksi. Ada beberapa jenis struktur pasar, yang masing-masing memiliki karakteristik yang berbeda, seperti persaingan sempurna, persaingan monopolistik, oligopoli, dan monopoli. Secara sederhana, struktur pasar menggambarkan bagaimana pasar berfungsi dan bagaimana interaksi antara pembeli dan penjual terjadi dalam suatu ekonomi. Struktur pasar ini juga mempengaruhi efisiensi pasar dan kesejahteraan konsumen.

Market Structures terdiri dari empat jenis: perfect competition, monopolistic competition, oligopoly, dan monopoly.

A. Perfect Competition adalah istilah ekonomi yang mengacu pada struktur pasar teoritis di mana semua pemasok adalah sama. Biasanya, dalam situasi seperti ini, penawaran dan permintaan secara keseluruhan berada dalam keseimbangan. Misalnya, ketika ada beberapa perusahaan yang memproduksi suatu komoditas dan tidak ada satu pun perusahaan yang memiliki keunggulan kompetitif, maka persaingan sempurna pun terjadi. Dalam pasar ideal ini, kualitas bersifat komparatif antarperusahaan. Dengan demikian, pembeli juga dapat memilih produk dengan harga terendah.

Perfect Competition terjadi ketika terdapat banyak penjual yang bersaing satu sama lain, mudah untuk masuk dan keluar dari perusahaan, dan varian produk yang mereka jual identik dari satu penjual ke penjual lainnya, dan penjual berperan sebagai penerima harga.

Contoh Perfect Competition di Indonesia dapat ditemukan pada sektor pertanian, seperti penjualan beras atau sayuran. Di pasar ini, banyak petani yang menjual produk serupa tanpa ada perbedaan signifikan. Harga ditentukan oleh permintaan dan penawaran, dan tidak ada petani yang memiliki kekuatan untuk mengubah harga. Konsumen dapat dengan mudah berpindah ke penjual lain jika harga lebih murah, menjaga persaingan tetap ketat.

B. Monopolistic Competition adalah struktur pasar yang menggabungkan unsur-unsur pasar monopoli dan pasar kompetitif. Pada dasarnya, pasar persaingan monopolistik adalah pasar dengan kebebasan masuk dan keluar, tetapi perusahaan dapat membedakan produk mereka. Oleh karena itu, mereka memiliki kurva permintaan yang tidak elastis sehingga mereka dapat menetapkan harga. Namun, karena ada kebebasan masuk, laba supernormal akan mendorong lebih banyak perusahaan untuk memasuki pasar yang mengarah pada laba normal dalam jangka panjang. Ciri-ciri Monopolistic Competition sebagai berikut:

1. Banyak Penjual: ada banyak perusahaan yang beroperasi dalam pasar ini, yang berarti tidak ada satu perusahaan pun yang mendominasi pasar. Meskipun begitu, mereka memiliki sedikit kontrol terhadap harga karena adanya perbedaan produk.
2. Produk yang Dibedakan: setiap perusahaan menawarkan produk atau jasa yang serupa, tetapi ada beberapa perbedaan yang membuat produk mereka unik, seperti kemasan, merek, kualitas, atau inovasi. Konsumen cenderung memilih berdasarkan preferensi pribadi terhadap perbedaan tersebut.
3. Kebebasan Masuk dan Keluar Pasar: tidak ada hambatan besar untuk masuk atau keluar pasar. Perusahaan baru dapat dengan mudah masuk ke pasar dan menawarkan produk serupa, namun mereka tetap harus bersaing dengan perusahaan yang sudah ada.
4. Kekuatan Pasar Terbatas: setiap perusahaan memiliki kekuatan pasar yang terbatas, karena meskipun produk mereka dibedakan, ada banyak alternatif yang tersedia bagi konsumen. Perusahaan tidak bisa sepenuhnya mengendalikan harga dan harus tetap mempertimbangkan harga pesaing.
5. Iklan dan Pemasaran: perusahaan dalam pasar ini sering kali mengandalkan iklan dan strategi pemasaran untuk membedakan produk mereka dari pesaing. Pemasaran yang efektif dapat mempengaruhi pilihan konsumen dan menciptakan loyalitas merek.
6. Persaingan dalam Harga dan Non-Harga: selain bersaing dalam hal harga, perusahaan juga bersaing dalam hal kualitas produk, layanan pelanggan, dan promosi. Ini memberi konsumen banyak pilihan dan meningkatkan variasi dalam produk yang ditawarkan.

Contoh Monopolistic Competition di Indonesia dapat ditemukan pada industri restoran. Di kota-kota besar seperti Jakarta, terdapat banyak restoran yang menawarkan menu serupa, seperti nasi goreng, tetapi masing-masing restoran memiliki ciri khas yang membedakannya. Misalnya, ada restoran yang menyajikan nasi goreng dengan resep tradisional yang sudah turun-temurun, sementara restoran lain menawarkan nasi goreng dengan sentuhan modern dan variasi bahan yang lebih beragam. Selain itu, perbedaan lain terletak pada suasana, pelayanan, dan harga yang ditawarkan, yang memberikan pilihan lebih banyak bagi konsumen. Meskipun pada dasarnya semua restoran ini menjual nasi goreng, perbedaan dalam hal rasa, konsep, dan pengalaman makan menjadikan mereka bersaing untuk menarik pelanggan yang memiliki preferensi masing-masing.

C. Oligopoly adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan struktur pasar, industri, atau perusahaan tertentu. Pasar dianggap oligopoli atau sangat terkonsentrasi ketika pasar tersebut terbagi antara beberapa perusahaan umum. Perusahaan-perusahaan tersebut membentuk pasar oligopoli, yang memungkinkan bisnis-bisnis kecil yang sudah ada untuk beroperasi di pasar yang didominasi oleh beberapa perusahaan. Ciri-ciri Oligopoly sebagai berikut:

1. Beberapa Penjual Dominan: pasar oligopoli dikuasai oleh beberapa perusahaan besar yang menguasai sebagian besar pasar, sehingga sedikit perusahaan yang berkompetisi dalam pasar ini.
2. Barriers to Entry (Hambatan Masuk) Tinggi: untuk masuk ke pasar oligopoli, perusahaan baru harus menghadapi hambatan yang cukup tinggi, seperti biaya yang sangat besar, kendala teknologi, atau kontrol terhadap sumber daya penting. Ini membuat perusahaan baru sulit untuk memasuki pasar dan bersaing dengan pemain besar yang sudah ada.
3. Produk yang Serupa atau Berbeda: perusahaan dalam pasar oligopoli bisa menawarkan produk yang serupa, seperti pada industri otomotif, atau produk yang berbeda, seperti pada industri telekomunikasi, yang masing-masing menawarkan layanan yang berbeda.
4. Interdependensi: dalam pasar oligopoli, keputusan harga dan produksi dari satu perusahaan mempengaruhi perusahaan lainnya. Perusahaan biasanya harus mempertimbangkan reaksi pesaingnya sebelum membuat keputusan. Hal ini menciptakan ketergantungan antar perusahaan.
5. Kekuasaan Pasar: masing-masing perusahaan dalam pasar oligopoli memiliki kekuatan untuk mempengaruhi harga dan jumlah barang yang diproduksi. Meskipun tidak sebesar dalam monopoli, kekuatan harga dalam oligopoli tetap ada, terutama jika ada sedikit pesaing di pasar.
6. Strategi Pemasaran dan Iklan: perusahaan dalam pasar oligopoli sering kali menggunakan pemasaran dan promosi yang intens untuk membedakan produk mereka dan menarik konsumen, meskipun produk yang mereka tawarkan sangat mirip dengan produk pesaing.
7. Kemungkinan Terjadinya Kolusi: karena jumlah perusahaan yang terbatas, terdapat potensi untuk kolusi, di mana perusahaan-perusahaan tersebut secara diam-diam sepakat untuk mengatur harga atau produksi agar menguntungkan mereka bersama. Kolusi ini dapat merugikan konsumen karena harga tetap tinggi dan persaingan terbatas.

Contoh Oligopoly di Indonesia dapat ditemukan pada industri telekomunikasi. Di pasar ini, beberapa perusahaan besar seperti Telkomsel, Indosat Ooredoo, dan XL Axiata menguasai sebagian besar pangsa pasar. Meskipun ada banyak operator telekomunikasi di Indonesia, ketiga perusahaan besar ini mendominasi layanan seluler dan data. Keputusan harga, paket layanan, dan inovasi yang dibuat oleh satu perusahaan, seperti penurunan harga paket internet atau penawaran promo tertentu, sering kali diikuti oleh pesaing lainnya, menunjukkan adanya interdependensi yang tinggi. Selain itu, karena hambatan masuk yang cukup besar dan biaya yang tinggi untuk membangun infrastruktur jaringan, perusahaan baru sulit untuk masuk dan bersaing di pasar ini.

D. Monopoly adalah struktur pasar di mana hanya ada satu perusahaan atau penyedia yang menguasai seluruh pasokan suatu barang atau jasa tertentu di pasar. Dalam pasar monopoli, perusahaan tersebut menjadi satu-satunya penyedia produk atau layanan, sehingga konsumen tidak memiliki alternatif pilihan lain. Karena tidak ada pesaing, perusahaan monopolistik memiliki kekuatan penuh untuk mengatur harga dan kuantitas barang atau jasa yang ditawarkan. Monopoly juga ialah pasar di mana suatu produk atau layanan tertentu hanya ditawarkan oleh satu perusahaan. Struktur pasar monopoli memiliki ciri-ciri monopoli murni, di mana satu perusahaan sepenuhnya mengendalikan pasar dan menentukan pasokan dan harga suatu produk atau layanan. Oleh karena itu, pasar monopoli adalah pasar non-kompetitif. Adapun Jenis-Jenis Monopoly sebagai berikut:

1. Monopoli Alamiah (Natural Monopoly): monopoli ini terjadi ketika satu perusahaan dapat menyediakan barang atau jasa dengan biaya yang lebih rendah daripada jika ada beberapa perusahaan yang bersaing. Hal ini sering ditemukan dalam industri yang membutuhkan infrastruktur besar, seperti penyediaan listrik atau air bersih.
2. Monopoli Pemerintah (Government Monopoly): pemerintah dapat menciptakan monopoli melalui regulasi atau kepemilikan langsung terhadap industri tertentu. Misalnya, penyediaan layanan kereta api atau distribusi gas alam yang sering kali dikelola oleh perusahaan milik negara.
3. Monopoli Buatan (Artificial Monopoly): monopoli ini terjadi ketika sebuah perusahaan menguasai pasar melalui kekuatan pasar, seperti penguasaan paten atau hak cipta yang memberi hak eksklusif untuk memproduksi suatu produk tertentu. Monopoli ini dapat terjadi ketika satu perusahaan memiliki teknologi atau inovasi yang tidak dapat ditiru oleh pesaing.

Contoh Monopoly di Indonesia adalah Perusahaan Listrik Negara (PLN). PLN merupakan satu-satunya penyedia listrik di banyak daerah di Indonesia, sehingga menguasai hampir seluruh pasokan listrik di negara ini. Sebagai perusahaan milik negara, PLN memiliki kontrol penuh atas penyediaan dan distribusi listrik, dan konsumen tidak memiliki alternatif penyedia listrik selain PLN. Karena tidak ada kompetitor yang menawarkan layanan listrik serupa, PLN memiliki kekuatan untuk menentukan harga dan jumlah listrik yang disediakan.






Economies and Diseconomies of Scale_Ekonomi Mikro



Nama  : Nadyah Fakhriyah Izzah FS
Nim    : 240907501005
Kelas  : A


Economies and Diseconomies of Scale

A. Economies of Scale

1. Pengertian Economies of Scale

    Economies of Scale atau skala ekonomi merujuk pada keunggulan biaya yang dialami oleh suatu perusahaan ketika meningkatkan tingkat produksinya. Keunggulan tersebut muncul karena hubungan terbalik antara biaya tetap per unit dan jumlah produksi. Semakin besar jumlah produksi, semakin rendah biaya tetap per unit. Economies of scale juga merupakan penanda suatu bisnis telah berkembang secara pesat. Pasalnya, peningkatan volume produksi disebabkan karena adanya peningkatkan aktivitas penjualan. Jadi, semakin banyak unit produk yang dihasilkan, maka semakin rendah pula biaya yang harus dikeluarkan. Perusahaan pun dapat melakukan penghematan biaya lain ketika operasional perusahaan semakin besar.

    Economies of Scale juga menghasilkan penurunan biaya variabel rata-rata (biaya tidak tetap rata-rata) seiring dengan peningkatan output. Hal ini disebabkan oleh efisiensi operasional dan sinergi sebagai hasil dari peningkatan skala produksi. Skala ekonomi dapat direalisasikan oleh perusahaan di setiap tahap proses produksi. Dalam hal ini, produksi mengacu pada konsep ekonomi produksi dan melibatkan semua kegiatan yang terkait dengan komoditas, tidak melibatkan pembeli akhir.

2. Jenis - jenis Economies of Scale

Internal Economies of Scale
    Suatu perusahaan dikatakan berhasil mencapai skala ekonomis internal apabila mampu mengurangi biaya dan meningkatkan volume produksi. Secara umum perusahaan berskala besar memiliki modal yang besar pula sehingga mampu membeli stok bahan baku dalam jumlah yang besar sehingga akan memperoleh harga khusus yang lebih murah. Dengan produksi massal, biaya produksi per unit dapat ditekan sehingga menjadi lebih rendah.

Eksternal Economies of Scale
    Suatu perusahaan dapat memperoleh keuntungan efisiensi dengan memanfaatkan faktor-faktor dari luar perusahaan. Seiring dengan berkembangnya lingkup industri, maka akan disertai dengan pembangunan infrastruktur dan jaringan transportasi yang lebih baik. Perkembangan industri juga memicu berkembangnya infrastruktur dan jaringan komunikasi di wilayah tertentu. Beragam fasilitas tersebut tentu saja dapat dimanfaatkan oleh semua perusahaan yang beroperasi atau bekerja dalam lingkup industri itu. Secara lebih lanjut, perkembangan fasilitas ini tentu akan memberikan dampak positif bagi para pelaku usaha di industri tersebut.

3. Manfaat Economies of Scale

        Economies of Scale memiliki beragam manfaat termasuk :
  • Peningkatan efisiensi produksi yaitu dengan menghasilkan lebih banyak barang atau layanan, biaya rata-rata produksi cenderung menurun, sehingga perusahaan dapat memproduksi barang dengan biaya yang lebih rendah.
  • Harga yang lebih kompetitif yaitu dengan mengurangi biaya produksi, perusahaan dapat menawarkan produk dengan harga yang lebih kompetitif di pasar, yang dapat meningkatkan daya saingnya.
  • Peningkatan profitabilitas yaitu dengan menurunkan biaya produksi per unit, perusahaan dapat meningkatkan margin keuntungan mereka, yang pada gilirannya meningkatkan profitabilitas mereka.
  • Inovasi ialah economies of scale juga dapat memungkinkan perusahaan untuk mengalokasikan lebih banyak sumber daya ke penelitian dan pengembangan produk baru atau inovasi lainnya.

4. Dampak Economies of Scale terhadap Biaya Produksi

  • Mengurangi biaya tetap per unit. Sebagai hasil dari peningkatan produksi, biaya tetap tersebar ke lebih banyak output daripada sebelumnya.
  • Mengurangi biaya variabel per unit. Hal ini terjadi karena skala produksi yang diperluas meningkatkan efisiensi proses produksi.

5. Faktor - faktor yang menyebabkan Economies of Scale

  • Spesialisasi Tenaga Kerja yaitu dengan peningkatan skala produksi, pekerja dapat menjadi lebih terampil dan terlatih dalam tugas spesifik, yang meningkatkan produktivitas dan mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk setiap unit produksi.
  • Teknologi yang Lebih Canggih yaitu perusahaan besar cenderung memiliki kemampuan untuk menginvestasikan lebih banyak pada mesin atau teknologi yang lebih efisien, yang bisa menghasilkan barang dengan lebih cepat dan lebih murah.
  • Pembelian dalam Jumlah Besar (Bulk Buying) yaitu perusahaan besar dapat membeli bahan baku atau komponen dalam jumlah besar, memungkinkan mereka untuk mendapatkan harga yang lebih murah dari pemasok, karena diskon pembelian massal.
  • Pengurangan Biaya Administrasi yaitu ketika skala perusahaan meningkat, biaya manajerial dan administratif dapat disebarkan ke lebih banyak unit, mengurangi biaya per unit.
  • Peningkatan Efisiensi Manajerial yaitu dengan meningkatnya ukuran perusahaan, pengorganisasian dan koordinasi dapat ditingkatkan. Manajer dapat mengalokasikan sumber daya secara lebih efektif dan menggunakan sistem yang lebih baik untuk mengelola operasi perusahaan.

6. Contoh Kasus Economies of Scale

    Perusahaan Coca-Cola sebagai salah satu produsen minuman terbesar di dunia, dapat memanfaatkan economies of scale dalam produksinya. Ketika Coca-Cola meningkatkan volume produksi minuman ringan, mereka dapat membeli bahan baku seperti gula, air, dan botol dalam jumlah besar dengan harga yang lebih murah karena diskon pembelian massal. Selain itu, Coca-Cola memiliki pabrik-pabrik besar dan fasilitas distribusi yang efisien di seluruh dunia, yang memungkinkan mereka untuk memproduksi dan mendistribusikan produk dengan biaya yang lebih rendah per unit. Perusahaan ini juga dapat menyebarkan biaya tetap seperti riset dan pengembangan, pemasaran, dan iklan ke lebih banyak botol minuman yang diproduksi. Dengan demikian, semakin banyak Coca-Cola memproduksi dan mendistribusikan produk, semakin rendah biaya per unit yang mereka tanggung. Hal ini memberi Coca-Cola keunggulan kompetitif dalam hal harga, yang memungkinkan mereka untuk mempertahankan posisi dominan di pasar minuman ringan global.

B. Diseconomies of Scale

1. Pengertian Diseconomies of Scale

    Diseconomies of scale adalah kerugian ekonomi ketika sebuah perusahaan karena peningkatan ukuran organisasi atau output, yang mengakibatkan produksi barang dan jasa dengan biaya per unit yang meningkat. Diseconomies of Scale terjadi ketika perusahaan menjadi kurang efisien saat berekspansi yang menyebabkan biaya rata-rata per unit menjadi lebih tinggi. Pada titik ini, manfaat dari peningkatan produksi menghasilkan laba yang semakin berkurang, yang pada akhirnya berdampak negatif pada profitabilitas. Alih-alih menurunkan biaya rata-rata, meningkatkan output menghasilkan biaya rata-rata yang lebih tinggi. Biasanya terjadi ketika perusahaan telah mencapai skala efisiensi minimum yaitu titik terendah dari biaya rata-rata. Sebelum titik itu, perusahaan mencapai skala ekonomi ketika meningkatkan produksi, ia menyadari penurunan biaya rata-rata. Namun, setelah titik itu biaya rata-rata meningkat seiring dengan peningkatan produksi. Hal ini dapat terjadi karena faktor-faktor seperti inefisiensi, manajemen yang buruk, atau kesulitan dalam menjaga kualitas produk.

2. Jenis - jenis Diseconomies of Scale

  • Internal Diseconomies of Scale, kenaikan biaya rata-rata disebabkan oleh faktor internal perusahaan. Jadi, itu hanya berlaku untuk perusahaan itu, tidak untuk perusahaan lain.
  • Eksternal Diseconomies of Scale, kenaikan biaya per unit berasal dari faktor eksternal. Perusahaan tidak memiliki kendali atas faktor-faktor tersebut. Juga, kenaikan biaya terjadi untuk semua perusahaan di industri.

3. Faktor - faktor yang menyebabkan Diseconomies of Scale

  • Kompleksitas Berlebih dalam Operasional yaitu dengan latar belakang pertumbuhan, kompleksitas yang berlebihan dalam operasi dapat muncul sebagai masalah yang signifikan. Ketika proses dan sistem menjadi terlalu rumit, sering kali mengakibatkan kebingungan dan miskomunikasi di antara karyawan. Hal tersebut dapat menghambat produktivitas dan meningkatkan biaya, yang pada akhirnya tidak adanya manfaat skala.
  • Penurunan Hasil bagi Faktor Produksi ialah terjadi ketika menambahkan lebih banyak satu input, seperti tenaga kerja, menyebabkan peningkatan output yang semakin kecil. Situasi ini dapat berasal dari fasilitas yang terlalu padat atau sumber daya yang tidak memadai.
  • Motivasi Berkurang ialah seiring pertumbuhan bisnis, basis karyawan meningkat, yang dapat membuat mereka merasa terisolasi dan dengan demikian kurang termotivasi. Bisnis kecil mempekerjakan beberapa orang yang memiliki hubungan pribadi dengan bisnis dan hubungan kerja yang erat dengan pemilik dan manajemen. Tenaga kerja yang besar dengan interaksi yang lebih sedikit dengan manajemen puncak dapat dengan mudah kehilangan fokus, yang mengarah pada penurunan profitabilitas dan diseconomies of scale. Menurunnya motivasi dan loyalitas karyawan sering kali menyebabkan penurunan tingkat produktivitas dan masuknya biaya marjinal.
  • Kurangnya Koordinasi dan Hilangnya Arah ialah seiring dengan pertumbuhan ukuran suatu entitas, akan semakin sulit untuk mengoordinasikan karyawan yang pada akhirnya akan kehilangan arah dan motivasi. Banyak karyawan yang terbiasa dengan rutinitas, dan menghadapi risiko kehilangan motivasi dan minat dalam meningkatkan profitabilitas bisnis. Para manajer dan supervisor juga mengalami kesulitan dalam mengatur operasi dan memastikan bahwa setiap orang memainkan perannya secara efektif.

4. Contoh Kasus Diseconomies of Scale

    Microsoft adalah perusahaan teknologi multinasional yang didirikan pada tahun 1975 oleh Bill Gates dan Paul Allen. Perusahaan ini terkenal dengan produk-produk perangkat lunak seperti sistem operasi Windows, aplikasi perkantoran Microsoft Office, dan platform cloud Azure. Diseconomies of scale lainnya dapat ditemukan pada perusahaan Microsoft pada awal tahun 2000-an. Ketika Microsoft berkembang pesat dengan produk seperti Windows dan Office, mereka mulai mengalami kesulitan dalam mengelola ukuran perusahaan yang sangat besar. Salah satu masalah yang muncul adalah kompleksitas dalam pengembangan produk dan koordinasi antar tim pengembang, karena semakin banyak tim yang terlibat dalam proyek-proyek besar, komunikasi menjadi lebih rumit, dan proses pengambilan keputusan yang lebih lambat mulai memperlambat inovasi. Hal ini menyebabkan pengurangan efisiensi dan keterlambatan dalam merespons perubahan pasar. Misalnya, ketika tren perangkat mobile mulai berkembang pesat, Microsoft terlambat mengadopsi strategi yang tepat untuk bersaing dengan perusahaan seperti Apple dan Google. Keputusan untuk mengembangkan sistem operasi mobile, seperti Windows Phone, tidak secepat yang dibutuhkan untuk tetap kompetitif, dan hasilnya adalah kegagalan produk tersebut di pasar.

Inflasi & Deflasi_Pengantar Ekonomi dan Bisnis

Nama  : Nadyah Fakhriyah Izzah FS
Nim    : 240907501005
Kelas  : A

INFLASI & DEFLASI



-INFLASI-

    Inflasi merupakan suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus, kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi kecuali bila kenaikan itu meluas (atau mengakibatkan kenaikan harga) pada barang lainnya. Selain itu, ketidakstabilan ekonomi dan tingkat penjualan juga menimbulkan inflasi. Dengan kata lain, inflasi juga merupakan proses menurunnya nilai mata uang secara kontinu.
Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Inflasi

    Inflasi adalah kondisi di mana harga barang dan jasa secara umum meningkat dari waktu ke waktu. Ketika inflasi terjadi, uang yang kita miliki menjadi kurang berharga, karena dengan jumlah uang yang sama, kita tidak bisa membeli sebanyak dulu. Misalnya, jika harga barang yang kita beli naik 10%, uang Rp100.000 yang kita miliki sekarang hanya bisa membeli barang yang sebelumnya bisa dibeli dengan Rp90.000.

PENYEBAB INFLASI

Inflasi bisa disebabkan oleh dua hal utama:

  1. Inflasi karena Permintaan (Demand-Pull Inflation), ini terjadi ketika banyak orang ingin membeli barang atau jasa, tetapi jumlah barang yang tersedia terbatas. Misalnya, jika ekonomi sedang berkembang dan pendapatan orang meningkat, orang akan lebih banyak membeli barang. Karena banyak yang ingin membeli, harga barang naik.
  2. Inflasi karena Biaya (Cost-Push Inflation), ini terjadi ketika biaya untuk memproduksi barang atau jasa meningkat. Misalnya, harga bahan baku seperti minyak atau bahan makanan naik. Produsen akan menaikkan harga barang mereka agar tetap bisa mendapatkan untung meskipun biaya produksi lebih tinggi.

DAMPAK INFLASI

Inflasi bisa memiliki dampak positif dan negatif:

- Dampak Negatif:

  • Daya beli menurun: Uang yang kita miliki tidak bisa membeli barang sebanyak dulu.
  • Ketidakpastian ekonomi: Inflasi yang tidak terkendali bisa membuat orang bingung dan khawatir tentang masa depan ekonomi.
  • Menambah beban orang berpendapatan tetap: Orang yang hanya mengandalkan gaji tetap, seperti pensiunan, akan kesulitan karena gaji mereka tidak naik seiring dengan kenaikan harga barang.
- Dampak Positif:
  • Mendorong pengeluaran: Orang cenderung lebih cepat menghabiskan uang mereka sebelum harga barang naik lebih tinggi lagi.
  • Menurunkan utang: Jika seseorang atau negara memiliki utang, inflasi bisa mengurangi beban utang mereka karena jumlah uang yang harus dibayar di masa depan menjadi lebih rendah.

CARA MENGUKUR INFLASI

Inflasi biasanya diukur dengan dua cara:

  1. Indeks Harga Konsumen (IHK): Ini mengukur perubahan harga barang-barang yang biasa dibeli oleh konsumen, seperti makanan, pakaian, dan transportasi.
  2. Indeks Harga Produsen (IHP): Ini mengukur perubahan harga barang yang diproduksi oleh perusahaan, sebelum barang tersebut sampai ke konsumen.

MENGENDALIKAN INFLASI

    Pemerintah dan bank sentral (seperti Bank Indonesia) biasanya akan mengambil langkah-langkah untuk menjaga inflasi agar tidak terlalu tinggi atau rendah. Misalnya, jika inflasi terlalu tinggi, Bank Indonesia bisa menaikkan suku bunga untuk mengurangi jumlah uang yang beredar dan menurunkan permintaan barang. Sebaliknya, jika inflasi terlalu rendah atau perekonomian lesu, Bank Indonesia bisa menurunkan suku bunga untuk mendorong lebih banyak pengeluaran.
Sumber : ChatGPT

-DEFLASI-


    Deflasi adalah suatu gejala dan kondisi saat harga barang secara umum mengalami penurunan, berlangsung lama, dan menyebabkan nilai uang meningkat. Deflasi terjadi karena kurangnya permintaan barang dan jasa, berkurangnya jumlah uang beredar, peningkatan produktivitas, serta adanya kebijakan moneter yang ketat seperti kenaikan suku bunga oleh bank sentral.
Sumber:https://www.detik.com/jogja/bisnis/d-7569764/inflasi-dan-deflasi-pengertian-perbedaan-jenis-hingga-dampaknya

    Deflasi adalah kebalikan dari inflasi. Jika inflasi terjadi ketika harga barang dan jasa naik, deflasi terjadi ketika harga barang dan jasa turun secara umum dalam waktu tertentu. Artinya, uang yang kita miliki menjadi lebih berharga, karena dengan jumlah uang yang sama, kita bisa membeli lebih banyak barang atau jasa.
    Contohnya, jika harga barang turun 10%, uang Rp100.000 yang kita miliki sekarang bisa membeli barang yang sebelumnya hanya bisa dibeli dengan Rp90.000. Jadi, deflasi membuat daya beli uang kita meningkat.

PENYEBAB DEFLASI

Deflasi bisa terjadi karena beberapa alasan:

  1. Penurunan Permintaan, jika banyak orang tidak membeli barang atau jasa, karena penghasilan mereka menurun atau mereka lebih berhati-hati dalam belanja, penjual akan menurunkan harga barang supaya lebih banyak yang membeli. Misalnya, saat perekonomian sedang buruk, orang akan mengurangi pengeluaran, sehingga harga barang pun turun.
  2. Peningkatan Pasokan, jika jumlah barang yang tersedia di pasar terlalu banyak dibandingkan dengan permintaan, produsen atau pedagang akan menurunkan harga untuk menjual barang yang berlebih. Misalnya, jika produksi barang sangat banyak tetapi tidak ada yang membeli, harga barang akan turun.
  3. Kebijakan Moneter Ketat, bank sentral mungkin juga menaikkan suku bunga atau mengurangi jumlah uang yang beredar di pasar, yang bisa mengurangi pengeluaran dan menyebabkan harga barang turun.

DAMPAK DEFLASI

Meskipun deflasi bisa tampak menguntungkan karena harga barang lebih murah, deflasi yang terlalu lama atau terlalu dalam bisa berbahaya bagi perekonomian. Berikut dampak deflasi:

  • Penurunan Pengeluaran, ketika orang tahu harga barang akan terus turun, mereka mungkin akan menunda pembelian barang. Hal ini bisa menyebabkan penurunan permintaan yang lebih besar, yang kemudian bisa mengurangi pendapatan perusahaan dan menghambat pertumbuhan ekonomi.
  • Kesulitan bagi Peminjam, jika harga barang turun, nilai uang meningkat. Namun, bagi orang yang memiliki utang, hal ini justru bisa menjadi masalah. Meskipun uang yang dimilikinya lebih berharga, utang yang harus dibayar tetap dalam jumlah yang sama. Ini bisa menyebabkan kesulitan dalam membayar utang, karena pendapatan mereka mungkin menurun akibat deflasi.
  • Peningkatan Pengangguran, perusahaan yang kesulitan menjual barang dengan harga lebih rendah mungkin akan mengurangi produksi atau bahkan mem-PHK karyawan. Akibatnya, tingkat pengangguran bisa meningkat.

MENGATASI DEFLASI

    Untuk mengatasi deflasi, pemerintah dan bank sentral biasanya akan melakukan kebijakan moneter dan fiskal untuk mendorong permintaan dan mengurangi penurunan harga. 

KESIMPULAN

    Secara singkat, deflasi adalah penurunan harga barang dan jasa secara umum. Meskipun harga barang yang lebih murah bisa terlihat menguntungkan, deflasi yang terlalu lama atau ekstrem bisa menyebabkan masalah ekonomi, seperti menurunnya pengeluaran, peningkatan pengangguran, dan kesulitan bagi peminjam utang. Oleh karena itu, perekonomian yang sehat biasanya memiliki inflasi yang terkendali, bukan deflasi yang berkepanjangan.
Sumber : ChatGPT